Saturday, November 12, 2016

Untaian Kata

Oleh Nabila Riyanti "Dan kami PASTI akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata "inna lillahi wa inna ilaihi rajiun" (sesungguhnua kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali). Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk." QS. Albaqarah: 155-157 Sunggug, Allah pasti akan menguji orang-orang yang beriman. Janganlah sedih bila kita tertimpa musibah atau ujian. Karena, Allah ingin menghapus dosa-dosa yang telah kita perbuat. Dan apa saja keutamaan bersabar: 1. Sesungguhnya Allah memberikan pahala kepada orang yang bersabar yaitu tanpa hisab atau tak terhingga dan terus mengalir "Katakanlah (Muhammad), "wahai hamba-hamba-Ku yang beriman! Bertakwalah kepada Tuhanmu." Bagi orang-orang yang berbuat baik di dunia ini akan memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu luas. Hanya orang-orang yang bersabarlah yang di sempurnakan pahalanya tanpa batas. QS Azzumar: 10 2. Hati akan terasa lapang dan tidak mudah stress 3. Allah akan mengampunkan dosa-dosa orang yang berasabar. Dosanya akan rontok seperti daun-daun kering yang rontok dari pohonnya. Sungguh, kita adalah milik Allah, maka Allah berhak melakukan apapun yang Ia kehendaki. Maka kita sebagai manusia haruslah bersabar dan ikhlas. MasyaAllah, semoga bermanfaat Aamiin

Wednesday, November 2, 2016

"SEMAKIN HARI SAYA SEMAKIN KAYA"

Sebuah cerita inspiratif Maha suci Allah dengan segala kebesarannya. Di saat saya tidak memiliki harta apa pun kecuali hp yang saya pegang, tas yang saya gunakan sehari-hari, baju yang saya pakai sehari-hari, khimar, kaus kaki, tetapi Alhamdulillah dengan kenikmatan yang Allah berikan saya merasa jiwa saya seperti memiliki rumah setara 5 Milyar, mobil sport, emas beratus-ratus gram, tanah berhektar-hektar karena semakin hari saya merasa Allah memperkaya hati. Mengapa demikian? Karena saya masih bersyukur masih bisa di beri kesempatan berinfaq walau tidak seberapa dan dalam keadaan lapang dan sempit Alhamdulillah saya bisa berinfaq, saya masih di berikan rezeki untuk berangkat dengan kendaraan umum ke tempat-tempat majlis taklim, saya memiliki suami yang menyayangi dan beranggung jawab, saya masih di berikan kesehatan untuk berangkat ke majlis taklim, saya masih bisa di berikan kesempatan untuk fastabikhul khoirot (berlomba-lomba dalam kebaikan) dengan berdzikir, membaca alquran, sebisa mungkin berbuat baik kepada orang lain dan membantu orang lain, dll. Semakin hari saya semakin bahagia dengan apa yang Allah berikan hari ini. Bertambah lagi kekayaan saya mana kala saya di berikan janin di dalam rahim saya yang sudah mencapai 6 bulan, semoga Allah selalu menjaga dan memberikan kesehatan kepada janin saya dan semoga Allah menjadikan anak keturunan saya anak-anak yang soleh dan dapat menjadi penerus Rasulullah Salaulahualaihi wasalam dalam berdakwah menyebarkan agama islam. Saya bukanlah orang kaya yang sudah memiliki rumah pribadi, mobil pribadi, tabungan beratus-ratus juta. Awal saya menikah dengan suami saya adalah saya tidak ingin berpacaran lama-lama karena saya tidak ingin berlarut-larut dalam dosa. Saya menyadari dan mengakui bahwa saya sebelum menikah dengan suami saya, saya melakukan pacaran yang semoga Allah mengampuni dosa-dosa saya dan suami di masa lalu. Saya sungguh menyesal dan bertaubat atas perbuatan saya. Ketika itu suami saya belum memiliki pekerjaan tetap, ia masih menjadi staff magang di sebuah instansi pemerintahan, gaji pun tidak seberapa. Sampai sekarang suami saya belum mendapatkan pekerjaan lain. Saya pun tidak boleh bekerja oleh suami saya, alasannya sederhana karena saya tidak boleh terikat waktu nya dengan perusahaan dan kewajian istri bukan mencari rezeki. Walau banyak pro dan kontra mengapa saya tidak lagi bekerja. Ada yang mengatakan "sudah di kuliahi orang tua mahal-malah, eh ujung-ujungnya jadi ibu rumah tangga, apa gak sayang?" Pertanyaan yang sering saya dengar. Ah sudah lah mereka tidak mengerti, saya rasa pekerjaan yang saya jalani sebagai ibu rumah tangga adalah pekerjaan yang lebih mulia di mata Allah dan lebih membahagiakan. Saya bisa ke majlis taklim, mencari ilmu akherat, banyak waktu luang untuk membaca alquran, sholat sunah, dll. Suami saya pun mendapat teguran mengapa saya tidak di izinkan untuk bekerja, tapi hal tersebut tidak membuat suami saya berubah dengan keputusannya. Saya tahu suami saya sudah berusaha melamar-lamar pekerjaan. Kami menunggu-nunggu panggilan kerja untuk suami saya, pada saat hampir setahun suami saya mendapatkan panggilan kerja. Saya dan suami sangat bersemangat dan saya turut membantu membereskan berkas-berkas yang di butuhkan. Qodarallah suami saya tidak di terima di perusahaan tersebut. Awal menikah saya berumur 23thn dan suami 24thn, saya percaya Allah akan mencukupi rumah tangga saya. Waktu itu saya bekerja dan Alhamdulillah memiliki gaji yang lumayan besar untuk ukuran fresh graduate. Saya pikir, dengan gaji saya dan suami sudah bisa mencukupi kebutuhan rumah tangga kami. Saya kerap tidak memperdulikan apapun, walaupun suami saya tidak memiliki rumah pribadi, mobil pribadi, tabungan yang banyak, bahkan gaji pun sangat kecil. Tapi saya kukuhkan niat saya agar saya dapat menikah karena Allah SWT, karena saya tidak ingin berlarut-larut dalam dosa. Dan suami saya pun masih ragu karena ia sadar ia belum memiliki apa-apa. Tapi saya dengan mantap meyakinkan suami saya bahwa kita tidak boleh takut akan rezeki dan harus percaya bahwa rezeki itu pasti Allah cukupkan apa lagi dengan niat kita menikah karena Allah. MasyaAllah pernikahan tersebut berlangsung, walaupun kami menikah masih memakai uang orang tua untuk pesta. Saya di boyong suami ke rumah nya dengan alasan suami saya lebih dekat kantor nya dari rumah nya ketimbang rumah saya, tapi setiap jumat-ahad kami menginap di rumah orang tua saya. Awalnya saya tidak memperdulikan masalah materi yang suami saya berikan. Lama kelamaan saya tergoda juga oleh syaiton dan kami kerap bertengkar masalah materi. Saya yang kerap tidak bisa hidup atau menerima gaji suami yang sangat kecil, sedangkan suami saya pun tidak bisa berbuat apa-apa karena memang belum mendapatkan pekerjaan lain. Saya kerap egois, tidak memikirkan suami saya yang sudah banting tulang untuk menafkahi saya tapi saya tidak mensyukuri nya. Di tambah lagi keinginan saya untuk memiliki rumah sendiri. Saya semakin hari semakin mengeluh dengan suami perihal ini dan itu. Tapi lagi-lagi suami saya tidak bisa berbuat apa-apa hanya bisa mengatakan bersabar dan bersyukur. Pernah sekali ia saking kesel nya dengan keluhan yang saya lontarkan setiap hari ia mengatakan, jika ingin kaya dengan instan, gampang, mencari uang haram. Astagfirullah Qodarallah saya masih memiliki iman agar saya tidak menyuruh suami saya melakukan hal tersebut. Ada beberapa faktor yang membuat saya merasa sedih, merasa tidak cukup, salah satunya adalah saya belum bisa mengajak orang tua makan-makanan yang enak dan mahal, belum bisa memberikan bulanan kepada mereka, membantu mereka jika mereka butuh, walaupun mereka juga tidak pernah meminta sedikitpun. Tapi dalam batin saya, saya ingin tapi tak bisa karena untuk hari-hari kami saja masih pas-pasan. Hal tersebut juga membuat saya semakin sedih dan mengeluh. Saya masih egois akan hal itu seakan-akan saya tidak pernah menikmati dan mensyukuri apa yang Allah berikan. Melihat orang-orang yang memiliki tas baru, sepatu baru, saya ingin tapi tak bisa beli, rumah tangga lain memiliki rumah baru, mobil baru dan tak mampu saya beli, lagi-lagi saya mengeluh dan mengeluh kepada suami. Di tambah lagi kami ingin memiliki anak yang otomatis biaya akan jauh lebih besar. Tapi suami saya masih bisa bersabar menghadapi saya. Suatu ketika, suami saya rela mengumpuli gaji nya selama berbulan-bulan agar saya bisa membeli hp yang paling canggih dan terbaru, lagi-lagi saya kurang bersyukur akan hal itu. Saya bertanya-tanya dalam doa mengapa saya belum di takdirkan menjadi kaya? Mengapa rezeki yang di berikan oleh Allah seret sekali, dll. Astagfirullah naudzubillah hi min dzalik, semoga Allah mengampuni saya. Lambat laun saya merasa capek sendiri. Setahun pernikahan, saya bangun malem untuk solat tahajud, Alhamdulillah walau masih bolong-bolong tapi saya rutinkan setiap minggu berapa hari bangun malem semoga saya bisa terus rutin tanpa bolong-bolong untuk qiyamul lail. Setelah saya melakukan tahajud, saya merasa diri saya sangat kaya. Bukan dengan harta melainkan saya bisa menikmati indahnya bersama keluarga, menikmati setiap detik yang Allah berikan. Walau sampai sekarang keadaan keuangan saya masih sama, tapi saya jauh lebih merasa kaya. Ternyata Allah memberikan kekayaan bukan dari materi. Setiap waktu bersama keluarga, suami saya adalah hal yang indah, hal yang nikmat, bersyukur tiada henti karena apa yang saya miliki hari ini. Suami yang soleh, baik, bertanggung jawab, berusaha membahagiakan saya. Saya juga sudah tidak perdulikan lagi apapun yang orang katakan, yang orang lain miliki, karena saya sadar rezeki orang berbeda-beda. Walau saya masih belum bisa membahagikan orang tua saya, tapi in syaa Allah saya akan berusaha menjadi anak yang solehah dan istri yang solehah agar saya dapat membahagian mereka di akherat jika di dunia saya belum bisa membahagiakan mereka. Menikmati karena saya menikah karena Allah dan sekarang saya tau jika kita menikah karena Allah semuda apapun usia pasti Allah akan memberikan kekayaan yang luar biasa bukan hanya berbentuk materi tetapi batin dan jiwa. MasyaAllah Allah hu Akbar. Semoga cerita ini dapat menginspirasi bahwa menikah dapat memperkaya kita. Hari ini dan in syaa Allah seterusnya saya tidak akan mengeluh apa yang suami saya berikan, apa yang suami saya kerjakan saya akan terus bersyukur dan mendoakan serta saya akan terus percaya bahwa suami saya akan terus berusaha dan saya masih optimis bahwa Allah akan memberikan akhir yang lebih indah untuk cerita ini.